Pada zaman dahulu kala, di negeri Shikoku hiduplah seekor rakun tua
bernama Tobe. Rakun Tobe adalah pemimpin
para rakun yang berada di Shikoku, ia merasa dirinyalah yang paling hebat dalam
hal penyamaran di seluruh Shikoku, tetapi ketika mendengar kabar bahwa ada
seekor rubah wilayah Chugoku yang terkenal lebih hebat dalam menyamar, ia
berkata,
“Jika saya adu penyamaran dengan
Pemimpin Rubah, jangankan Shikoku saya akan menjadi yang paling hebat di
seluruh Jepang.” Ia dengan bersemangat menyeberangi Pedalaman Laut Seto.
Jadilah Tobe sampai di sebuah desa
yang terdapat di wilayah Chugoku, ia pun melihat sekeliling untuk mencari
pemimpin rubah, dari arah depan datanglah seekor binatang bukan anjing dan
bukan pula seekor serigala.
Tentu ini binatang ini adalah rubah
itu, pikirnya.
“Pertemukanlah saya dengan
pemimpinmu.” Kata Tobe.
“Pemimpinnya tidak lain tidak bukan
adalah saya sendiri.” Jawab Rubah.
Dan terjadilah adu penyamaran antara
rakun dan rubah. Pertama adalah Rakun yang menyamar menjadi samurai dan seorang
gadis.
“Bagaimana? Kalian para rubah tentu
tidak bisa sehebat ini menyamar, kan?”
Kata
Rakun, dan Rubah pun menjawab,
“Lumayan,
tidak jelek untuk kamu yang dengan sengaja datang dari Shikoku. Tetapi saya tidak
akan melakukan cara penyamaran yang ringkas begitu.”
“Apa?
Kalau begitu perlihatkanlah bagamana penyamaranmu !”
“Jangan
terburu-buru. Saya akan memperlihatkan iring-iringan bangsawan yang sangat
hebat. Meskipun peralatan menyamarnya sudah ada, tapi akan makan waktu karena iring-iringan
bangsawan mulainya besok pagi. Akan bagaimana, lihat baik-baik ya. Jangan beranjak
sedikitpun.”
Karena
itulah pagi hari berikutnya Rubah menunggu iring-iringan bangsawan, dari jauh
terdengar,
“Berlutut
! Beri hormat, berlutut!” datanglah iring-iringan bangsawan yang sangat tertib.
Rakun
yang beranggapan bahwa dirinya terhebat di Shikoku pun merasa kagum melihat
iring-iringan Daimyo yang sangat hebat itu.
“Wah
hebat sekali. Benar-benar Rubah adalah Sang Pemimpin.” Katanya menghampiri
tandu Raja sambil bersorak dengan suara keras, kemudian belum lagi hilang suara
Rakun,
“Perusuh
!” Teriak para samurai yang berhamburan lari menangkap Rakun.
Sebagaimana
yang dikagumi oleh Rakun, iring-iringan ini benarlah iring-iringan dari seorang
pemimpin. Dan akan halnya Rubah, ia bukanlah siapa-siapa, bukanlah seorang
Pemimpin.
***
Pesan Moral
Kesombongan hanya akan
membawa celaka
No comments:
Post a Comment